Portal Pengumuman

Pengumuman, Event, Beasiswa Pendidikan, Event Olahraga, Teknologi Terbaru, dan berbagai informasi terkini lainnya.

Loading...

Wednesday, May 30, 2018

Peneliti MIT Berhasil Ukur Penguasaan Bahasa Inggris dengan Memindai Pergerakan Mata


Membaca buku (ilustrasi). Sumber: pixabay.com | StockSnap

Peneliti Massachusets Institute of Technology (MIT) baru-baru ini berhasil menemukan metode baru untuk mengukur tingkat penguasaan terhadap Bahasa Inggris hanya dengan melakukan pemindaian pergerakan mata seseorang ketika membaca teks berbahasa Inggris.

Dalam artikel yang diturunkan di laman berita MIT, para peneliti MIT tersebut berhasil menemukan salah satu cara untuk mengukur bagaimana seseorang mempelajari Bahasa Inggris yaitu melalui pemindaian gerakan mata. Para peneliti berhasil menemukan keterkaitan dan pola antara pergerakan mata seseorang saat membaca tulisan berbahasa Inggris dan menggunakannya untuk menilai seberapa tingkat pemahaman (reading comprehension) pembaca tersebut terhadap teks yang dibacanya.

Para peneliti tersebut membandingkan antara pola hasil pemindaian pada subjek yang diuji dengan hasil standar yang ada dan memberikan penilaian terhadap hasil-hasil tersebut. Hal ini sebagaimana telah diungkapkan oleh Yevgeni Berzak, salah satu penulis dari paper ilmiah yang membahas hal ini dari Departemen Brain and Cognitive Sciences (BCS), MIT.

Paper yang diterbitkan dalam Proceedings of the 16th Annual Conference of the North American Chapter of the Association for Computational Linguistics: Human Language Technologies ini berjudul "Assessing Language Proficiency from Eye Movements in Reading".

Dalam paper tersebut terungkap bahwa skor hasil pengukuran yang dilakukan para peneliti MIT tersebut untuk mengukur kefasihan berbahasa Inggris subjek penelitian memiliki korelasi yang kuat dengan skor tes standar penguasaan Bahasa Inggris (TOEFL dan Michigan English Test/MET).

Dataset yang dipergunakan dalam penelitian ini mencakup rekaman pergerakan mata dari 37 pembicara Bahasa Inggris native dan 145 pembicara Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Data yang berasal dari kelompok subjek dimana Bahasa Inggris merupakan bahasa kedua, dikelompokkan menjadi 4 (empat) latar belakang bahasa ibu subjek penelitian, yaitu 36 subjek berbahasa ibu Bahasa China, 36 berbahasa asli Bahasa Jepang, 36 orang Portugis, dan 37 orang berbahasa asli Bahasa Spanyol.

Subjek penelitian kemudian diminta untuk membaca masing-masing sebanyak 156 kalimat Bahasa Inggris yang diambil dari Wall Street Journal Penn Treebank (WSJ-PTB) (Marcus et al.,1993), dimana satu kalimat maksimal mencakup 100 karakter dengan jumlah kata rata-rata sebanyak 11.4 kata per kalimat. Setengah dari 156 kalimat tersebut merupakan kalimat yang sama yang dibaca semua subjek, sedangkan sisanya merupakan kalimat yang berbeda-beda untuk masing-masing partisipan untuk memisahkan antara data hasil pengukuran yang telah memiliki trained data sebelumnya dengan data yang akan diprediksi (test data).

Dengan data yang ada tersebut, para peneliti ini kemudian memperkenalkan EyeScore, suatu metrik independen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kefasihan berbahasa Inggris berbasiskan data pergerakan mata saat membaca teks berbahasa Inggris. Metrik ini merupakan metrik untuk menggambarkan tingkat profisiensi seseorang terhadap Bahasa Inggris berdasarkan prediksi skor partisipan apabila melakukan test Bahasa Inggris yang umum seperti TOEFL dan MET.

Menurut para penelitinya, metode ini merupakan pembuktian (proof-of-concept) metode pertama yang menggunakan hasil pemindaian gerakan mata pembaca teks berbahasa Inggris untuk mengukur kefasihan berbahasa.


Sumber: http://news.mit.edu/2018/gauging-language-proficiency-through-eye-movement-0523
Paper: http://aclweb.org/anthology/N18-1180


No comments:

Post a Comment